Arti Tentang Kita
Kututup mata,
Bayangmu senantiasa berkelebat..
Kututup telinga,
Bisikmu begitu menghantui...
Derai-derai air mata seakan tak penah cukup memanggilmu kembali.
Kau tahu, hidup itu ibarat onde-onde..
Kuseka sisa-sisa air mata yang masih menggenang di pelupuk mataku. Kubaca lagi bait, kata, baris dalam tulisan tiap kalimat yang kurangkai, seakan tak pernah cukup untuk membuka kembali mataku. Mencari serpihan diriku yang begitu sendiri. Serpihan diri yang selama ini menjadi penanggung jawab atas perubahan sikapku. Aku seperti tak pernah sadar akan semuanya, karena apa?
Kau terlalu banyak diam, Kawan!
Setiap manusia memiliki arti dan tujuannya sendiri hidup di dunia ini selain menjadi Hamba Allah. Aku, kamu, dia, dan mereka. Ya, kita semua! Punya arti tersendiri dalam hidup. Misalnya alasan mengapa kita mendedikasikan diri kita seperti sekarang. Sama halnya denganku, aku berjuang membahagiakan orang-orang disekitarku semampuku. Sekuat yang kumampu. Termasuk dengan tulisanku.
Aku membalik-balik halaman di monitor netbook-ku. Aku menemukan banyak arsip lama berisi semua tulisan-tulisanku terdahulu. Aku membacanya berulang kali. Kata menjadi kalimat dan kalimat berubah menjadi paragraf-paragraf, kubandingkan lagi dengan tulisanku yang lain. Berbeda. Tulisanku sebelumnya, menurutku, lebih bagus.
Aku sempat bertanya-tanya, hampir pada semua orang yang kuketahui.
“Mengapa kita hidup?”
Mengapa kita hidup jika hanya selalu dianggap melakukan kesalahan? Mengapa kita hidup jika kita selalu merasa hidup terlalu membebani? Mengapa kita hidup jika hanya untuk disakiti? Mengapa kita hidup tanpa arti dan sama sekali tiada berguna? Mengapa kita hidup dengan banyak air mata sedangkan mereka dengan tawa?
Adilkah ini?
Terlalu banyak kata tanya. Ya, terlalu banyak pertanyaan yang tak kunjung menemukan jawaban. Aku sendiri mungkin belum mampu menemukan jawaban atas setiap pertanyaan yang kutuliskan, namun seharusnya aku mampu sadar.
Pernahkah kita merasa seperti kehilangan diri? Merasa diri berubah akhir-akhir ini?
Ya! Seharusnya tidak seperti ini!
Ada sebuah kata ‘seharusnya’ yang terkesan mendesak dan begitu penting.
Ketika kita menyadari ada yang salah pada diri kita sendiri dan kita tak mampu mengetahui apa yang sebenarnya tak seharusnya berada pada diri kita. Diri kita seakan ingin menghapus keburukan tersebut, namun sepertinya sulit, seakan keburukan itu menjadi pencitraan dirimu didepan beberapa temanmu yang mungkin sempat memberimu satu peringatan tentang adanya perubahan.
Rasa benci kita pada diri kita yang buruk seakan menjadi sebuah teror.
Kita merasa telah menciptakan ketakutan sendiri dan kekejaman pada diri sendiri. Mengakibatkan kita merasa semuanya tak benar. Menyebabkan kita merasa bahwa kita adalah mahluk yang paling malang dan seharusnya diakui dan berhak untuk bahagia dan orang lain yang selama ini kita anggap orang jahatlah yang seharusnya menderita dan merasakan sakit. Bukan kita!
Sejenak, memang mungkin kita sering kali merasakan menjadi mahluk paling malang. Daratan serasa ingin menghimpit dan menenggelamkan kita hingga yang tersisa pada diri kita hanyalah sebuah nama tanpa cerita. Kawan, begitulah sebenarnya sifat lahiriah manusia. Ingin bahagia. Ada yang mengatakan bahagia dengan uang, pasangan idaman, keluarga yang utuh, kecantikan, dan lainnya. Mereka mewujudkan semua kebahagiaannya dengan banyak cara. Ya, bekerja.
Namun ada satu hal yang sepertinya luput dari perhatian kita.
Ada beberapa manusia yang sepertinya ingin merasa menjadi paling bahagia.
Caranya?
Hanya dua. Yaitu, berusaha sekuat tenaga menjadi orang yang paling bahagia atau berusaha menjatuhkan orang lain ‘lebih rendah’ daripada kita hingga kita merasa bahwa kita adalah orang yang paling bahagia.
Manusia terkadang benar-benar membingungkan.
Mengapa kita tak berusaha membahagiakan orang lain agar kita bahagia?
Aku menepuk jidatku berkali-kali.
“Kau bukan orang yang jahat. Kau hanya mengalami banyak pengalaman buruk yang merenggut semua kebahagiaanmu. Ingat, bukan karena ‘kamu’ yang membuatmu menjadi dirimu sendiri, namun ‘pilihanmu’lah yang menentukan siapa kamu sebenarnya..”
Aku terkesiap. Bukankah itu kalimat yang kubuat sendiri?
Ya. Aku tahu dimana letak kesalahanku. Letak terjadinya teror pada diriku hingga beberapa teman harus menanggung pertanyaanku yang tak pernah menemukan jawaban, “Untuk apa kita hidup?”
Kesalahanku, aku pasrah akan semua yang terjadi padaku.
Hal itulah yang menyebabkanku tidak stabil, mudah meledak, menangis tiba-tiba, bingung, tertutup, dan hanya mengurung diri. Karena seharusnya aku tidak seperti ini.
Ada banyak kata seharusnya.
Sebuah kata yang mengantarkanku pada sepotong bait.
Bukan karena kita merasa menjadi mahluk paling malang sedunia hingga kita seharusnya mengutuk takdir kita dan menganggap bahwa hidup sungguh tidak adil. Bukankah dimana pun wajah kita menghadap akan selalu ada masalah disana?
Oh, ayolah, Kawan! Think smart!
Tersenyum dan angkat dagumu. Hidup itu seperti onde-onde.
Sebuah perumpamaan bahwa hidup kita awalnya mungkin tenggelam dan susah, namun seiring dengan berjalannya waktu, ketika kita belajar mendewasakan diri, maka kita perlahan akan mengapung dan tak pernah lagi tenggelam. Ibarat onde-onde mulai proses pembuatan, tampilannya saat matang, putih, licin, dan imut, juga rasa gurih diluar dan manis luar biasa didalam.
Perlahan aku menarik senyumku. Seharusnya kita harus menghilangkan semua teror tersebut seiring dengan waktu. Menjadikan diri kita dewasa dan benar-benar berguna. Hingga suatu waktu, ada banyak pengalaman hidup yang mampu kita ceritakan pada anak cucu kita.
Setiap kisah akan terkenal jika masih ada yang mau mendengarnya.
Bukankah kisah pencarian jati diri senantiasa menjadi topik perbincangan kita?
Daripada hanya tinggal diam, bukankah lebih baik kita coba?
Kita ‘kan sudah punya banyak harapan, impian dan cita-cita? Yuk senyum ^^,



